Situs Netizen No.1 di Indonesia

Tata Cara Membayar Zakat Lengkap

BincangSyariah.Com– Di antara rukun Islam yang wajib dikerjakan oleh umat Islam adalah mengeluarkan atau membayar  zakat. Nah berikut tata cara membayar zakat lengkap. Simak penjelasan berikut. (Baca juga: Apakah Korban PHK Wajib Membayar Zakat? ).

Menurut literatur fiqih klasik dan kontemporer, zakat mempunyai dua arti, pertama, secara etimologi, yaitu tumbuh, berkembang, subur, atau bertambah. Kedua, secara terminologi, yaitu nama dari harta tertentu, menurut sifat-sifat tertentu, dan diberikan kepada golongan tertentu. Dan, di antara zakat yang harus ditunaikan adalah zakat fitrah.

Kewajiban bagi setiap Muslim saat Idul Fitri adalah menunaikan zakat fitrah. Kewajiban rukun Islam yang keempat ini mulai berlaku sejak tahun kedua hijriah tepat sebelum disyariatkannya kewajiban puasa Ramadhan. Baik dalam Al-Qur’an dan hadits, banyak sekali dijelaskan tentang kewajiban membayar zakat. Salah satunya adalah firman Allah swt berikut,

وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Artinya, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah [2]: 43).

Hukum Menunaikan Zakat Fitrah

PemirsaBincang Syariah, sebagaimana yang telah dikemukakan di atas berikut dalil Al-Qur’an-nya, membayar zakat hukumnya wajib sesuai kesepakatan ulama bagi orang yang telah memenuhi kriteria, yaitu; beragama Islam, merdeka (bukan hamba sahaya), dan memiliki makanan pokok pada saat idul fitri (untuk siang dan malamnya).

Hal ini berlaku baik bagi laki-laki, perempuan, anak kecil, orang dewasa, orang merdeka, ataupun hamba sahaya (yang muba’adh).

Waktu  Menunaikan Zakat Fitrah

Karena diwajibkan, maka sahabat Bincang Syariah perlu tahu pembagian waktu-waktu untuk mengeluarkan zakat. Agar zakat yang dikeluarkan bisa benar-benar sempurna dan sesuai dengan anjuran dalam Islam.

Waktu pengeluaran zakat fitrah dibagi menjadi lima, berikut pembagian dan penjelasannya masing-masing:

  1. Wajib, yaitu seseorang menjumpai bagian dari bulan Ramadhan dan bagian dari bulan Syawal. Sehingga, orang yang meninggal dunia sebelum matahari terbenam pada malam satu Syawal tidak terkena kewajiban zakat, karena tidak menjumpai bagian dari bulan Syawal.  Demikian juga bayi yang baru lahir setelah terbenamnya matahari malam satu Syawal, karena tidak menjumpai bagian dari bulan Ramadhan.
  2. Diutamakan (sunnah), yaitu setalah terbit fajar pada pagi hari hadi raya idul fitri sampai sebelum dilaksanakannya shalat hari raya. Akan tetapi, jika sahabat Bincang Syariah ingin mengeluarkan di waktu yang paling baik, maka harus ditunaikan setelah shalat fajar.
  3. Boleh, yaitu terhitung sejak memasuki awal bulan Ramadhan.
  4. Makruh, yaitu membayar zakat setelah shalat hari raya hingga terbenamnya matahari. Kecuali jika untuk suatu kemaslahatan, seperti menunggu seorang kerabat atau orang faqir yang saleh untuk diberikan kepadanya.
  5. Haram, yaitu membayar zakat sehari setelah hari raya idul fitri tanpa adanya uzur (kendala yang dimaklumi). Jika ada uzur, semisal belum ada harta untuk dizakatkan baru tersedia atau sulit menemukan mustahiq (penerima zakat), maka boleh, akan tetapi statusnya sebagai qadha dan tidak berdosa.
Ukuran Zakat Fitrah

Masing-masing orang wajib mengeluarkan makanan pokok (di Indonesia umumnya adalah beras, sebagian lainnya sagu, gandum, atau lainnya) sebesar satu sha’ (sekitar 2,7 sampai 3.0 kilogram).

Niat Zakat Fitrah

Niat merupakan sesuatu yang wajib dilakukan dalam menunaikan zakat fitrah. Para ulama menilai, bahwa di antara syarat sahnya zakat harus disertai dengan niat. Dalam hal ini, niat disyaratkan berada dalam hati, dan dianjurkan untuk melafalkannya semata untuk memantapkan.

Pertama, Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ نَفْسِيْ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

Artinya, “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku sendiri, fardhu karena Allah Ta‘âlâ.”

Kedua, Niat Zakat Fitrah untuk Istri

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ زَوْجَتِيْ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

Artinya, “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk istriku, fardhu karena Allah Ta‘âlâ.”

Ketiga, Niat Zakat Fitrah untuk Anak Laki-laki

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ وَلَدِيْ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

Artinya, “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak laki-lakiku …. (sebutkan nama), fardhu karena Allah Ta‘âlâ.”

Keempat, Niat Zakat Fitrah untuk Anak Perempuan

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ بِنْتِيْ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

Artinya, “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak perempuanku…. (sebutkan nama), fardhu karena Allah Ta‘âlâ.”

Kelima, Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri dan Keluarga

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنِّي وَعَنْ جَمِيْعِ مَنْ تَلْزَمُنِيْ نَفَقَتُهُمْ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

Artinya, “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku dan seluruh orang yang nafkahnya menjadi tanggunganku, fardhu karena Allah Ta‘âlâ.”

Keenam, Niat Zakat Fitrah untuk Orang yang Diwakilkan

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ (…) فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

Artinya, “Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk… (sebutkan nama spesifik), fardhu karena Allah Ta‘âlâ.”

Penerima Zakat Fitrah

Zakat fitrah diberikan kepada salah satu dari delapan golongan penerima (mustahiq) yang sudah ditetapkan dalam Islam, yaitu fakir, miskin, amil (petugas zakat), muallaf (orang baru masuk Islam), budak, orang yang terlilit utang, orang yang sedang dalam jalan Allah, dan orang yang sedang dalam perjalanan jauh yang bukan maksiat.

Doa saat Menerima Zakat

Bagi penerima zakat, dianjurkan untuk mendoakan pemberi zakat agar apa yang telah diberinya mendapat balasan pahala dari Allah swt dan harta yang dimilikinya mendapat keberkahan. Di antara contoh doa tersebut adalah seperti di bawah ini:

أَجَرَكَ اللهُ فِيْمَا أَعْطَيْتَ وَيَارَكَ فِيْمَا أَبْقَيْتَ وَجَعَلَهُ لَكَ طُهُوْرًا

Artinya, “Semoga Allah memberikan pahala atas apa yang engkau berikan, dan semoga Allah memberikan berkah atas harta yang kau simpan dan menjadikannya sebagai pembersih bagimu.” (Habib Hasan Ahmad Muhammad al-Kaf, Taqrîrâtus Sadîdah, 2003: 418-420).

Demikian penjelasan singkat dan lengkap perihal tata cara membayar zakat fitrah. Semoga tata cara membayar zakat ini memberikan manfaat bagi kaum muslimin. Wallahu A’lam bisshawab. (Baca juga: Apakah Kiai dan Guru Boleh Menerima Zakat Fitrah?).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.