Situs Netizen No.1 di Indonesia

Mengenal Gerakan Darul Arqam yang Diduga Diikuti Ayah Atta Halilintar

BincangSyariah.Com– Akhir-akhir ini publik kembali ramai, membahas mengenai salah satu ormas yang agaknya kurang terkenal. Hanya saja ormas ini diikuti oleh seorang publik figur yang cukup terkenal. Ormas ini adalah bernama Darul Arqam, lalu bagaimanakah aliran gerakan Darul Arqam ini?

Sejarah Darul Arqam

Darul Arqam didirikan di Malaysia oleh Asyari Muhammad pada tahun 1968. Latar belakang didirikannya organisasi ini adalah sebagai jawaban atas kerinduan umat Islam terhadap kehidupan masa nabi. Dari sini tampak jelas jika dilihat dari namanya “Darul Arqam” yang artinya Tumah Arqam.

Kata Arqam ini diambil dari nama seorang sahabat nabi yang namanya diabadikan dalam lintasan sejarah Islam. Pada masa awal penyebaran Islam rumah Arqam selalu dijadikan sebagai tempat pertemuan dan tempat berdiskusi oleh nabi dengan para sahabatnya.

Setidaknya ada 2 faktor mendasar mengapa Asyari Muhammad mendirikan kelompok ini, yaitu Pertama, adalah kondisi masyarakat Malaysia yang saat itu menurut Ashaari Muhammad ada dalam krisis keagamaan, ahlak, norma, dan krisis ekonomi, politik.

Permasalahan tersebut setiap hari semakin bertambah, bukan malah berkurang. Ditambah modernisasi, pembangunan dan merebaknya budaya Barat. Kedua, Ashaari Muhammad menilai para pejuang Islam mulai tumpul, kelompok-kelompok Islam tidak mampu memperjuangkan tegaknya ajaran Islam.

Islam hanya sebatas simbolis untuk meraih kekuasaan dan apabila mereka sudah aktif di pemerintahan cita-cita Islam tidak direalisasikan.

Kontroversial Darul Arqam di Malaysia

Karena 2 agenda besarnya ini, Darul Arqam pernah dituduh sebagai ormas yang ingin menggulingkan pemerintahan Malaysia. Tuduhan ini berkaitan dengan potensi politik yang dimiliki Darul Arqam, kemampuan memobilisasi massa, kemandirian dan ketaataan anggotanya kepada pemimpinnya yang sulit digoyahkan serta semakin berpengaruhnya di kalangan elit politik negeri Malaysia.

Hal ini kemudian menjadi permasalahan besar pada tahun 1994. Dewan Fatwa Nasional memutuskan pelarangan terhadap gerakan Darul Arqam melalui undang-undang karena dianggap membahayakan pemerintah. Namun reaksi sebagian masyarakat tidak setuju, karena Darul Arqam hanyalah merupakan kelompok studi agama.

Ditinjau dari konsep beragamanya mereka, sebenarnya sepintas Darul Arqam menganut paham Ahli Sunnah Wal Jamaah. Dalam bidang aqidah atau teologi, mereka menganut paham asy’ariyah. Di bidang fikih, Darul ‘Arqam selalu mengacu kepada Madzhabnya Imam As Syafi’i dan di bidang tasawuf, mereka berpegang pada Imam Al-Ghazali.

Karena itulah orang-orang Darul Arqam sangat menyukai wirid-wirid yang menyerupai kaum sufi khususnya tarikat Aurad Muhammadiyah yang didirikan di Makah oleh Al-Sayyid Muhammad Ibn Abdillah Suhaimi, seorang ulama asal Indonesia.

Di Indonesia sendiri, Darul Arqom mulai melebarkan sayapnya pada tahun 1979. Bahkan di beberapa negara Asia tenggara lainnya semisal Filipina, Thailand. Di negara lain, Darul Arqom juga berkembang misalnya Amerika, Kanada, Australia Selandia Baru, Inggris, Francis, Jerman, Pakistan, Yordania, Uzbekistan dan Mesir.

Lalu bagaimana respon MUI Indonesia terhadap gerakan ini?

Pada tahun 1992, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia mulai membahas gerakan Darul Arqam ini dan mendiskusikannya secara seksama, khususnya ajaran yang menyatakan bahwa Aurad Muhammadiyah Darul Arqam diterima secara langsung oleh Syekh Suhaemi, tokoh Darul Arqam, dari Rasulullah SAW di Ka’bah dalam keadaan jaga.

Fatwa MUI tentang Darul Arqam

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia mengambil kesepakatan untuk meluruskan ajaran Darul Arqam yang dipandang menyimpang seperti tersebut di atas. Di pandang dari kaca mata hukum Islam (Fiqh) hal ini tidak dapat dibenarkan, sebab dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW semua ajaran Islam yang harus disampaikan kepada umat telah selesai, tak satupun yang tertinggal.

Lalu Pada awal tahun 1994, masalah Darul Arqam muncul kembali dengan adanya keputusan/fatwa dari beberapa Majelis Ulama Indonesia Daerah Tingkat I. Untuk mengatasi masalah Darul Arqam itu, pada tanggal 16 Juli 1994 M Majelis Ulama Indonesia mengadakan Silaturahmi Nasional di Pekanbaru, bersamaan dengan Musabaqah Tilawatil Qur’an Tingkat Nasional.

Dalam Silaturahmi Nasional tersebut diperoleh beberapa keputusan, antara lain:

  1. Darul Arqam yang inti ajarannya Aurad Muhammadiyah adalah faham yang menyimpang dari aqidah Islam serta paham yang sesat menyesatkan
  2. Untuk memelihara kemurnian ajaran Islam dan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, mengusulkan kepada Kejaksaan Agung segera mengeluarkan larangan terhadap ajaran Darul Arqam dan aktivitasnya.
  3. Menyerukan kepada umat Islam, terutama kaum remaja, agar tidak terpengaruh oleh ajaran yang sesat dan menyesatkan itu.
  4. Kepada umat Islam yang sudah terlanjur mengikuti ajaran tersebut agar segera kembali kepada ajaran Islam yang benar, ajaran yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasullullah SAW..
  5. Menyerukan kepada para ulama, muballigh (muballighat, da’i, dan ustadz untuk meningkatkan dakwah Islamiyah, amar ma’ruf nahi munkar.

Selanjutnya pada tanggal 5 Rabi’ul Awwal 1415 H/ 13 Agustus 1994 M Majelis Ulama Indonesia mengadakan Rapat Pengurus Paripurna Majelis Ulama Indonesia, bersama Ketua-Ketua Majelis Ulama Daerah Tingkat I seluruh Indonesia yang menghasilkan beberapa keputusan tentang Darul Arqam yang kurang lebih sama seperti keputusan sebelumnya, seperti:

  1. Ajaran Darul Arqam adalah ajaran yang menyimpang dari Aqidah Islamiyah
  2. Mengusulkan kepada Jaksa Agung RI untuk mengeluarkan larangan terhadap Darul Arqam dan penyebarannya demi terpeliharanya kemurnian ajaran Islam dan keutuhan bangsa
  3. Menyerukan kepada umat Islam agar tidak terpengaruh oleh ajaran Darul Arqam tersebut
  4. Kepada umat Islam yang sudah terlanjur mengikuti ajaran tersebut agar segera kembali kepada ajaran Islam yang benar, ajaran yang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Dengan demikian, bisa kita fahami bahwasanya gerakan Darul Arqam ini tidak bisa diterima. Maka berhati-hatilah, adapun jika terlanjur masuk, silahkan segera keluar, sesuai dengan arahannya MUI. Keterangan ini disarikan dari Fatwa MUI tahun 1994.  Jurnal karya Muridan yang berjudul Menengok Kembali Potret Gerakan Dakwah Darul Arqam ). Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.