Situs Netizen No.1 di Indonesia

Hukum Haji yang Diwakilkan

BincangSyariah.Com – Haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan, terutama bagi mereka yang sudah mampu secara lahir maupun batin. Tetapi, tanpa diduga, banyak para Jamaah haji yang berhalangan seperti mendadak sakit dan beberapa udzur lainnya. Lantas, bagaimanakah hukum haji yang diwakilkan?

Dalam kondisi normal, di mana yang bersangkutan mampu mengerjakan sendiri, ibadah haji tidak boleh diwakilkan kepada orang lain. (Baca juga: Simak! Inilah 6 Rukun Haji yang Perlu Kamu Tahu).

hukum haji yang diwakilkan tidak boleh dalam Islam. Artinya, seseorang tidak boleh mewakilkan pelaksanaan haji dan umrahnya kepada orang lain.

Akan tetapi ada keringanan hukum, jika pada kondisi di saat orang itu tidak mungkin datang sendiri ke Ka’bah karena sakit yang berkesinambungan yang tidak mungkin sembuh, atau karena tua, dan sebagainya.

Jika sakitnya bisa disembuhkan, dia harus menunggu sampai dirinya sembuh dan melaksanakan haji sendiri. Seseorang yang tidak mempunyai halangan untuk berhaji, bahkan mampu melaksanakan haji sendiri, maka tidak halal baginya mewakilkan pelaksanaan hajinya kepada orang lain, karena dialah orang yang dituntut secara pribadi.

Seperti yang difirmankan Allah SWT,

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً

Artinya : “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Qs. Ali Imran: 97).

Namun demikian, dalam kondisi sakit yang kronis dan tidak mungkin diharapkan kesembuhannya, menurut pendapat mayoritas ulama, haji boleh diwakilkan kepada orang lain.

Begitu pula orang yang meninggal dunia dalam keadaan belum pernah menunaikan ibadah haji, padahal yang bersangkutan sudah mampu. Hal ini sebagaimana diceritakan dalam hadis shahih seorang perempuan dari Khats’am berkata kepada Rasulullah SAW,

 يارسول الله إن فريضة الله على عباده فى الحج ادركت أبى شيخا كبيرا  لا يثبت على الراحلة افأحج عنه؟ قال نعم (متفق عليه)

Artinya : “Wahai Rasulullah sesungguhnya kewajiban haji berlaku atas hamba-hamba Allah. Saya menjumpai bapak saya telah tua dan tidak mampu duduk di atas kendaraan. Apakah saya mengerjakan haji atas namanya? Beliau menjawab “ya”.”

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa, dalam kondisi normal, di mana yang bersangkutan mampu mengerjakan sendiri, ibadah haji tidak boleh diwakilkan kepada orang lain.(Baca juga: Dalil Kewajiban Ibadah Haji).

Tetapi, dalam kondisi sakit yang kronis dan tidak mungkin diharapkan kesembuhannya, menurut pendapat mayoritas ulama, haji boleh diwakilkan kepada orang lain. Begitu pula orang yang meninggal dunia dalam keadaan belum pernah menunaikan ibadah haji, padahal yang bersangkutan sudah mampu.

Demikian penjelasan mengenai hukum haji yang diwakilkan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. (Baca: Hukum Menabung Untuk Ibadah Haji).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.