Situs Netizen No.1 di Indonesia

dr. Muhammad Fajri Adda’i;  Ada Pelbagai Persiapan dari Pandemi Covid-19 Menuju Fase Endemi

BincangSyariah.Com– Penurunan kasus aktif sekaligus angka kematian Covid-19 terus terjadi di Indonesia. Hal ini menunjukkan situasi pandemi terus membaik di tanah air. Lantas apakah situasi benar-benar bisa beralih dari pandemi menjadi endemi?

Menjawab hal ini, tim Bincang Syariah melakukan wawancara dengan dr Muhammad Fajri Adda’i. Sekilas mengenai biografi dr Fajri. Ia menjalani pendidikan dokter umum di Universitas Gajah Mada pada tahun 2009 hingga 2015. 

Lalu sejak tahun 2020 hingga sekarang ia bergabung sebagai dokter relawan di tengah pandemi, sekaligus tim anggota penanganan Covid-19. Dr Fajri juga saat ini aktif sebagai pembicara terkait penanganan Covid-19. Beliau pun beberapa kali muncul di media online, cetak, dan televisi untuk dimintai pendapat terkait situasi pandemi. 

Apakah Indonesia Sudah Berada Dalam Fase Transisi Pandemi Menuju Endemi?

Kasus memang berkurang di Indonesia, namun belum di dunia. Sebelumnya perlu berangkat dari definisi terlebih dahulu agar lebih mudah dicerna. Pandemi adalah suatu kejadian kasus luar biasa di beberapa negara hingga di beberapa benua. Jadi melibatkan banyak wilayah, intinya begitu. 

Jika masih bersifat kedaerahan, maka bukan disebut pandemi. Sedangkan pengertian dari endemi adalah ketika penyakitnya berkurang. Baik dari segi penularan, segi kuantitas maupun kualitasnya. Selain itu angka kematian juga berkurang.  

Sehingga lebih terkendali walaupun saat ini masih ada virus atau sumber penyakitnya yang masih bersirkulasi. Sebagai contoh dalam masyarakat adalah Malaria. Dahulu ia memberikan outbreak besar atau termasuk ke dalam kejadian luar biasa. Tapi sekarang hanya di beberapa tempat saja. 

Contoh lain misalnya Tuberkulosis atau TBC. Penyakit ini merupakan endemis Indonesia loh. Dan Indonesia menjadi salah satu negara terbesar keempat dengan kasus TBC di dunia. Tapi jika tidak seluruh dunia, penyakit ini hanya di beberapa tempat saja. 

Ada beberapa kriteria saat memasuki fase endemi. Kriteria ini dipakai oleh Indonesia maupun negara lain. Setidaknya ada lima parameter menurut Kementerian Kesehatan yang juga mengacu pada Badan Kesehatan Dunia atau WHO.

Pertama, ketika positivity rate kurang dari 5 persen. Jadi, sekian puluh ribu orang yang melakukan dites Covid-19, yang positif di bawah lima persen. Kedua adalah fatalitas atau angka kematian di bawah 3 persen. 

jadi dari sekian banyak orang terkena covid-19, yang meninggal itu di bawah 3 persen. Ketiga, angka laju penularan harus kurang dari 1. Untuk mengetahuinya dan metode penghitungan oleh ahli epidemiologi. 

Keempat, adalah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Dikatakan masuk fase endemi jika berada di level satu. Kalau masih dua atau tiga berarti belum. Semua kriteria ini minimal terjadi selama enam bulan. 

Berarti selama enam bulan stabil. Kasus Covid-19 harus rendah terus tanpa lonjakan. Namun walaupun Indonesia tetap mengalami penurunan, tapi kan masih ada potensi varian yang muncul dari negara lain. Misalnya di Afrika, Cina, India dan lainnya. 

Jadi jalan keluarnya adalah tetap menegakkan protokol kesehatan, konsisten dengan testing, tracing dan treatment (3T), dan mengejar cakupan vaksinasi covid-19. Setidaknya harapan itu yang kita dapatkan. Sekarang Indonesia harapannya adalah segera dilakukan vaksin karena secara jangka panjang, sangat bermanfaat. 

Mudik telah usai, apa yang harus dilakukan oleh para pemudik setelah kembali dari kampung halaman?

Ya itu, vaksin dilengkapi juga. Begitu juga dengan semua anggota keluarga. Kalau perlu dosis sampai ketiga. Terutama bagi orang lanjut usia atau memiliki komorbid. Ibarat kata vaksin adalah helm atau sabuk pengaman saat berkendara. 

Kalau kita naik mobil, pakai sabuk pengaman kan. Dengan tujuan kalau terjadi kecelakaan tidak memberikan dampak yang berat.  Harapan ini serupa dengan vaksin Covid-19. Harapannya jika tertular, tidak akan memberikan dampak yang berat. 

Di sisi lain, vaksin juga memberikan perlindungan jika tanpa sengaja tertular Covid-19. Vaksin memang tidak terbukti mencegah penularan. Namun terbukti mencegah kematian. 

Lalu apa yang perlu dipersiapkan menuju fase endemi

Satu, genjot terus vaksinasi Covid-19 supaya makin merata cakupan vaksinnya. Sehingga orang makin terproteksi dan juga mendapatkan perlindungan secara imunitas. Kedua, jangan sampai kita walau sudah divaksin malah menjadi lalai. 

Jadi jangan menyepelekan sudah vaksin, dan berpikir tidak akan ketularan. Ketiga,  persiapan kejar terus penelitian obat. Jika punya lembaga riset, lakukan penelitian obat. Kalau tidak bisa, ya Indonesia tinggal menunggu. 

Dalam jangka panjang, riset kita harus ditingkatkan lagi. Baik dari badan kampus, hingga riset nasional. Dari sisi meningkatkan cakupan vaksinasi Covid-19, sebenarnya memang tidaklah mudah. Vaksin kita banyak kok, persiapan fasilitas kita cukup banyak. Jadi ya kalau mengejar secara luas ke pelosok harusnya bisa. 

Ditambah dengan banyaknya informasi hoax serta hambatan ketidakpercayaan masyarakat. Di Hongkong saja misalnya, mereka tidak mau divaksinasi karena tidak percaya, dan merasa tidak butuh karena sebelumnya tidak ada kasus. Makanya terjadi kejadian luar biasa. 

Di Indonesia juga banyak penolakan-penolakan karena takut kejadian pasca imunitas atau KIPI. Takut usai  divaksin meninggal dan malah menjadi berat, dan masih banyak informasi yang tidak benar. Karenanya carilah sumber yang baik. Vaksin kita banyak kok, persiapan fasilitas kita juga . Jadi ya kalau mengejar secara luas ke pelosok harusnya bisa. 

Apa pesan pada masyarakat terkait masa transisi ini?

Orang mulai merasa sudah endemi, padahal belum. Pandemi masih Covid-19 masih ada karena yang mendeklarasikan pandemi secara dunia adalah WHO. Kedua, masih terus waspada jika negara lain masih mengalami ledakan kasus Covid-19.

Apa lagi jika tingkat vaksinasinya rendah. Diikuti dengan kemampuan 3T yang rendah. Berikut juga dengan kurangnya kedisiplinan dalam menjalankan protokol kesehatan. Hal ini tentu berdampak pada Indonesia juga. 

Selama menunggu proses vaksinasi, kita semua harus menjaga protokol kesehatan. Lalu kurangi mengunjungi ruangan tertutup dan makan bareng. Setidaknya kalau memang harus di ruang tertutup jangan banyak berbicara dan jangan lupa gunakan masker. 

Kalau pun ingin minum atau makan tinggal cari celah dengan menghindari kerumunan. Ketiga jangan lupa kejar vaksinasi karena sudah jelas dapat menyelamat nyawa jutaan manusia. Kemudian segera tuntaskan vaksin dosis kedua dan ketiga.

Terakhir, jangan lupa berdoa dan beribadah sesuai kepercayaan masing-masing. Sehebat apapun berusaha kalau hati tidak tenang, ya susah juga. (Baca juga: Pentingnya Sikap Ridha dalam Menghadapi Situasi Pandemi Covid-19).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.