Situs Netizen No.1 di Indonesia
Berita  

Buya Syafii Menangis saat Rapat Bahas Nasib Bangsa sebelum Meninggal

Jakarta, CNN Indonesia

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi mengatakan Buya Syafii Maarif akhir-akhir ini suka menangis pada saat rapat membahas nasib dan masa depan bangsa.

Yudian mengatakan Buya Syafii selaku anggota Dewan Pengarah BPIP kerap menitikkan air mata ketika mengikuti rapat pleno bersama para anggota BPIP.

“Setiap rapat pleno belakangan sering menitikkan air mata,” kata Yudian kepada CNNIndonesia.com via telepon, Jumat siang.


 “[Pesannya] bahwa tugas kita, khususnya sebagai BPIP, masih sangat berat dan sangat dibutuhkan bangsa ini.”

Buya Syafii, lanjut dia, berpesan kepada BPIP untuk terus menjaga persatuan dan mewujudkan keadilan sosial bagi semua masyarakat Indonesia. Bagi Yudian, pesan itu merupakan perwujudan nilai-nilai Pancasila yang harus diwujudkan BPIP ke depannya.

“Dipesankan jaga persatuan dan lebih penting sila ke lima [Pancasila] itu. Jadi tugas terberat itu adalah mempertahankan persatuan sekaligus mewujudkan keadilan sosial,” kata Yudian.

Buya Syafii Maarif meninggal dunia di DI Yogyakarta (DIY) pada Jumat (26/5) pagi. Ia sempat menjalani perawatan di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman.

Para pimpinan lembaga hingga partai politik di Indonesia pun berduka cita atas berpulangnya tokoh PP Muhammadiyah tersebut.

Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin selain mengucapkan bela sungkawa, juga meminta segenap bangsa Indonesia meneladani Buya Syafii. Bagi Ma’ruf, keteladanan dan pemikiran menyejukkan yang selama ini dicontohkan oleh Buya Syafii harus tetap dilanjutkan.

“Keteladanan beliau wajib kita teruskan. Sebagai guru bangsa, pemikiran beliau sangat menyejukkan, moderat dan dapat diterima lintas generasi. Semoga Allah menerima amal ibadah beliau dan ampuni kekhilafannya,” kata Ma’ruf dalam video yang diterbitkan Setwapres, Jumat.

Ma’ruf mengatakan Indonesia berduka cita atas meninggalnya Buya Syafii. Ia menilai Buya Syafii sebagai seorang ulama terbaik bangsa yang dimiliki Indonesia saat ini.

“Kepada keluarga yang ditinggalkan dan keluarga besar Muhammadiyah, saya ucapkan berduka cita sedalam-dalamnya atas berpulangnya Buya Syafii,” kata mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pun mendoakan agar Buya Syafii. Ia mengatakan Buya Syafii sebagai seorang ulama, juga guru bangsa di Indonesia.

“Satu lagi teladan dan tokoh Indonesia wafat, almarhum Buya Syafii Ma’arif. Indonesia kehilangan guru bangsa,” ujar Yaqut di Jakarta.

“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam,” ucap Yaqut mengutip salah satu hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam al-Tabrani dan al-Baihaqi.

Sementara, Wakil Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jazilul Fawaid menyebut ide-ide eks Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii harus terus dihidupkan dan diperjuangkan. Hal ini diungkap Jazilul ketika mengenang Buya semasa hidupnya.

Menurutnya, Buya adalah sosok ulama dan negarawan yang berintegritas dan memiliki ide-ide untuk kemajuan agama dan negara.

“Buya Syafii merupakan sosok ulama dan negarawan yang berintegritas. Karena itu, berbagai ide dan gagasan semasa hidupnya harus terus dihidupkan dan diperjuangkan bagi kemajuan agama dan negara,” ungkap Jazilul dalam keterangan tertulis, Jumat (27/5).

Ia pun mengaku kehilangan salah satu putra terbaik bangsa Indonesia yang menjadi panutan dan teladan ummat Muslim.

Tak hanya itu, Jazilul mengenang nasihat Buya agar tetap menjadi politisi yang negarawan. Sebab, menurutnya, menjadi politisi sekaligus negarawan tidaklah mudah.

“Menjadi politisi negarawan itu sulit. Tapi beliau sudah memberikan contoh bagi kita semua bagaimana menjadi seorang negarawan yang baik,” ungkapnya.

Buya Syafii wafat di DI Yogyakarta (DIY) pada Jumat (26/5) pagi. Ia mengembuskan napas terakhir di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman, DIY.

Buya Syafii sebelumnya sempat dirawat di rumah sakit tersebut pada Sabtu (14/5) lalu karena mengalami sesak napas.

Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily mengatakan meninggalnya Buya Syafii merupakan kehilangan bangsa Indonesia terhadap seorang tokoh negarawan besar.

“Bangsa Indonesia sangat kehilangan tokoh Besar dan negarawan,” kata Ace dalam keterangannya, Jumat (27/5).

Ace mengatakan Buya Syafii merupakan satu dari sedikit cendekiawan muslim Indonesia yang teguh dengan pandangan kebangsaan dan ke-Indonesiaan. Menurut dia, Buya Syafii adalah sosok intelektual yang lurus dan sederhana.

Ace menyebut Buya Syafii juga merupakan tokoh yang memiliki prinsip jelas dan tegas tentang kemajemukan. Buya adalah tokoh pluralisme yang selalu menyuarakan nilai-nilai keislaman sesuai prinsip kemajemukan dan demokrasi.

“Buya Syafii, seorang intelektual yang juga guru bangsa. Beliau bukan saja milik Muhammadiyah, tetapi milik bangsa Indonesia,” katanya.

“Kami sungguh kehilangan atas kepergian tokoh bangsa yang produktif memberikan pencerahan untuk bangsa,” tambah Ace.

Buya Syafii wafat di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman, DIY pada Jumat (26/5) pagi. Dia sebelumnya sempat dirawat rumah sakit yang snaa sejak Sabtu (14/5) karena mengalami sesak nafas.

Almarhum rencananya akan dibawa ke Masjid Besar Kauman untuk disalati dan disemayamkan. Setelah itu akan dimakamkan pada Jumat petang nanti.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyatakan Ketum PDIP yang juga Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri terisak sedih ketika mendengar kabar wafatnya Buya Syafii.

“Ketika kami menyampaikan berita wafatnya Buya ke Ibu Megawati Soekarnoputri, Beliau terisak sangat sedih. Buya Syafii sosok yang menjadi sahabat Ibu Megawati, dan bersama-sama di BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila),” ujar Hasto melalui keterangan tertulis, Jumat (27/5).

Menurutnya, Megawati kehilangan sosok negarawan sekaligus cendekiawan yang rendah hati. Buya, di mata Megawati, adalah tokoh yang menjadi kekuatan bangsa karena etika dan keteladannnya.

“Ibu Megawati sungguh merasa kehilangan sosok negarawan yang menjadi cermin kecendekiawanan, sosok saleh yang rendah hati, sosok yang menjadi bagian kekuatan moral bangsa dan memberikan keteladanan dalam etika hidup berbangsa dan bernegara,” sambung Hasto.

(rzr/kid)

[Gambas:Video CNN]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.