Situs Netizen No.1 di Indonesia
Berita  

Bos Ekonomi Kumpul di Swiss, Sebut Proyeksi Suram, Kenapa

Jakarta, CNBC Indonesia – Para elit keuangan dunia yang berkumpul dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF) mengaku bahwa prospek ekonomi semakin suram. Ini diakibatkan oleh beberapa hal seperti kebijakan nol-Covid China serta juga perang Rusia-Ukraina yang mengganggu rantai pasok global serta menyebabkan inflasi.

Investor kondang George Soros membidik Presiden China Xi Jinping yang menggandakan kebijakan nol-Covid dan penguncian terkait. Kebijakan yang memungkinkan sebuah daerah dikunci meski hanya satu kasus ditemukan itu menurutnya menjadi hambatan besar bagi pemulihan ekonomi.


“Aktivitas ekonomi China yang menurun tajam akan membuka pintu pada perlambatan global kecuali Xi membalikkan arah,” ujarnya dikutip CNBC International, Jumat (27/5/2022).

“Setelah krisis real estat, kerusakannya akan sangat besar sehingga akan mempengaruhi ekonomi global. Dengan terganggunya rantai pasokan, inflasi global berpotensi berubah menjadi depresi global,” tambahnya.

Sementara itu, CEO Citigroup Jane Fraser menerangkan bahwa serangan Rusia ke Ukraina telah membawa prediksi suram bagi ekonomi Eropa. Benua Biru sendiri diketahui cukup menggantungkan energinya kepada Moskow.

“Saya pikir jauh lebih memprihatinkan bagi Eropa, yang berada tepat di tengah badai dari rantai pasokan, dari krisis energi, dan hanya dekat dengan beberapa kekejaman yang terjadi di Ukraina,” terangnya. “Dan saya harap saya salah.”

Tak hanya itu, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva, yang mengatakan selama panel pada hari Senin bahwa cakrawala ekonomi telah “gelap”. Hal ini utamanya dalam masalah pangan dan energi.

“Kami memiliki kejutan harga komoditas di banyak negara, dan kejutan khusus yang ingin saya sampaikan kepada Anda adalah kejutan harga pangan. Selama seminggu terakhir, karena perasaan bahwa mungkin ekonomi semakin sulit, harga minyak turun tetapi harga pangan terus naik, naik, naik, naik, “kata Georgieva.

“Mengapa? Kita dapat mengurangi penggunaan bensin ketika pertumbuhan melambat tetapi kita harus makan setiap hari, dan kecemasan tentang akses ke makanan dengan harga yang wajar secara global sedang melanda.”

Perang Rusia dan Ukraina sendiri membuat rantai pasok dari negara itu terganggu. Rusia diketahui merupakan produsen sumber energi yang cukup besar di dunia sementara Ukraina adalah pemain komoditas pangan yang juga dominan.

Di sisi lain, pemerintah China sempat menjatuhkan kebijakan nol-Covid di pusat ekonomi negara itu, Shanghai. Hal ini membuat arus barang dari wilayah itu ke seluruh dunia terhambat.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

AS & China ‘Biang Kerok’, Pertumbuhan Global Dipangkas


(sef/sef)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.