Situs Netizen No.1 di Indonesia

Berbagai Pemeriksaan dalam Mendiagnosis Glaukoma

Glaukoma adalah kerusakan saraf mata akibat meningkatnya tekanan pada bola mata. Kondisi ini berbahaya, karena jika tidak diobati secara tepat, bisa menyebabkan gangguan penglihatan permanen hingga kebutaan. 

Sayangnya, penyakit mata ini tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Karena itu, penting melakukan pemeriksaan fisik mata untuk diagnosis glaukoma. Hal ini agar risiko kerusakan mata dapat diminimalkan.

Pemeriksaan penunjang glaukoma sangat penting, utamanya bagi orang yang berisiko tinggi mengidap penyakit mata tersebut. Kelompok yang dimaksud, antara lain penderita diabetes, tekanan darah tinggi, serta punya riwayat keturunan pengidap glaukoma.

Jika Anda termasuk kelompok orang yang berisiko mengidap glaukoma, di bawah ini adalah sederet prosedur pemeriksaan mata yang bisa dilakukan.

Artikel Lainnya: Sering Mual dan Muntah Hebat? Waspada Glaukoma!

1. Tonometri

Mata Anda menghasilkan cairan yang diproduksi secara berkala untuk menjaga kesehatan organ penglihatan. Cairan ini kemudian akan dikeluarkan lewat sistem drainase mata.

Jika sistem drainase ini rusak dan tersumbat, cairan mata akan menumpuk dan menekan bola mata. Tekanan pada bola mata alias tekanan intraokular (TIO) dapat meningkatkan risiko terjangkit glaukoma. 

Untuk mendeteksi perubahan tekanan bola mata, dokter akan melakukan prosedur pemeriksaan bernama tonometri. Menurut Glaucoma Research Foundation, prosedur tonometri diterapkan dengan memberikan obat tetes mata khusus terlebih dahulu. Obat tersebut dapat membuat mata Anda mati rasa.

Selanjutnya, tekanan pada bagian dalam mata Anda diukur menggunakan alat bernama tonometer. Tekanan mata normal berkisar 12-22 mm Hg, sementara sebagian besar kasus glaukoma terjadi ketika tekanan bola mata melebihi 20 mm Hg. 

Meski begitu, tekanan bola mata pemicu glaukoma sangatlah beragam. Karenanya, beberapa orang ada juga yang mengalami glaukoma dengan tekanan intraokular normal berkisar 12-22 mm Hg.

2. Oftalmoskopi

Tes mata untuk deteksi glaukoma berikutnya adalah oftalmoskopi. Prosedur ini membantu dokter memeriksa bentuk dan warna saraf optik, sehingga potensi kerusakan saraf mata Anda dapat diketahui.

Untuk memeriksa kondisi saraf optik, dokter akan melebarkan pupil dengan memberikan obat tetes mata.  Selanjutnya, dokter menerangi dan memperbesar saraf optik menggunakan alat kecil yang dilengkapi dengan lampu di ujungnya. 

Jika bentuk dan warna saraf optik tidak biasa, serta hasil pemeriksaan tonometri sebelumnya menunjukkan tekanan bola mata tidak berada dalam kisaran normal, dokter akan meminta Anda melakukan beberapa pemeriksaan glaukoma lanjutan.  

Artikel Lainnya: Bagaimana Diabetes Meningkatkan Risiko Glaukoma?

3. Perimetri

Salah satu tes diagnosis glaukoma lanjutan yang direkomendasikan adalah perimetri. Prosedur ini bertujuan untuk memeriksa lapang pandang alias jangkauan penglihatan mata.

Lapang pandang adalah seluruh area visual yang dapat dilihat oleh mata ketika menatap lurus ke depan. Area tersebut dapat terlihat meski bola mata tidak bergerak ke sekeliling.

Nah, area lapang pandang pengidap glaukoma biasanya terganggu. Karena itu, jika Anda diduga mengidap penyakit mata tersebut, dokter akan memeriksa jangkauan penglihatan Anda. 

Pertama-tama, Anda akan diminta untuk melihat lurus ke depan, ke arah titik cahaya, secara berulang kali. Titik cahaya tersebut akan diarahkan ke berbagai area penglihatan tepi, sementara bola mata Anda tetap fokus lurus ke depan. Dokter akan meminta Anda menyebutkan letak titik cahaya tersebut. 

4. Gonioskopi

Pemeriksaan glaukoma lanjutan bisa juga dilakukan melalui prosedur gonioskopi. Disampaikan dr. Arina Heidyana, gonioskopi bertujuan memeriksa kondisi sudut pertemuan antara iris mata dan kornea. 

Iris mata adalah otot yang berkontraksi dan mengembang, serta membiarkan cahaya masuk ke mata. Iris juga menentukan warna mata.

Sementara, kornea adalah kubah pelindung transparan yang berada di bagian depan bola mata. Kornea berfungsi memfokuskan cahaya sebelum diterima oleh lensa mata, serta melindungi iris dan pupil mata. 

Untuk memeriksa sudut pertemuan antara iris dan kornea, terlebih dahulu diberikan obat tetes mata khusus, agar mata Anda menjadi mati rasa.

“Lalu, alat kecil semacam lensa ditempatkan di depan mata dan dilekatkan. Setelah itu, barulah dokter menilai sudut antara iris dan kornea tertutup atau terbuka,” paparnya.

Jika sudut antara iris dan kornea cenderung tertutup, kemungkinan Anda mengidap glaukoma akut, yaitu glaukoma yang terjadi secara mendadak.

Sementara, jika sudut antara iris dan kornea cenderung terbuka, ada kemungkinan Anda mengalami glaukoma kronis. Ini adalah jenis glaukoma yang berkembang secara perlahan.

5. Pakimetri

Ketebalan kornea dapat memengaruhi hasil pembacaan tekanan mata alias tonometri. Karenanya, dibutuhkan pemeriksaan penunjang deteksi glaukoma bernama pakimetri.

Pakimetri adalah prosedur untuk memeriksa ketebalan kornea Anda. Untuk mengukur ketebalan kornea, dokter akan menempatkan alat bernama pachymeter di kornea mata. Lalu, ketebalan kornea akan diukur.

Prosedur ini terbilang cepat, karena hanya membutuhkan waktu sekitar satu menit untuk mengukur ketebalan kornea kedua mata.

Untuk bisa melakukan pengobatan lanjutan, tes dan pemeriksaan penunjang tersebut harus dilakukan untuk mendiagnosis glaukoma. 

Jika ingin tanya lebih lanjut seputar penyakit mata lainnya, konsultasi ke dokter via Live Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan terkini di aplikasi KlikDokter.

(PUT/NM)

Referensi:

Glaucoma Research Foundation. Diakses 2022. Five Common Glaucoma Tests.

Glaucoma Research Foundation. Diakses 2022. What is Glaucoma?

Ditinjau oleh dr. Arina Heidyana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.